Tuesday, December 3, 2013

Bawomataluo

Tahukah anda bahwa Rumah Tahan Gempa terbaik ada di Indonesia!
Hebatnya lagi... Model rumah itu sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Nenek moyang bangsa Indonesia telah memiliki metode untuk membuat Rumah Tahan Gempa. 

Rumah itu merupakan Rumah Adat dari masyarakat Nias, tepatnya berada di Desa Bawomataluwo, Teluk Dalam, Kabupaten Nias Selatan. 
Bawomataluo, artinya Di bawah Matahari.

Menurut pengamatan beberapa orang, Oma Ada ini menjadi tahan gempa karena struktur yang dibuat terbuat dari balok-balok kayu utuh tanpa paku dan tidak rapat. Maksudnya, selalu ada rongga dari bagian - bagian rumahnya, yang dapat meredam goncangan. 

Omah Ada Ombua (rumah Raja Adat - Nias)

di antara struktur pondasi rumah Ada
Saya sendiri kurang paham mengenai arsitektur atau teknik sipil. Tapi tidak mengurangi kekaguman saya atas warisan intelektual nenek moyang bangsa Indonesia. 
Masyarakat desa Bawomataluo yang sudah familier dengan kedatangan tamu dan turis, menjadikan mereka sangat welcome dengan orang luar. Tidak segan - segan mereka menunjukkan apa yang kita ingin tahu. Juga dengan hasil kerajinan atau keahlian mereka. 





Icon yang paling terkenal dari desa ini adalah Lompat Batu. Keahlian para pemuda lokal untuk melompati tumpukan batu setinggi 2 meter tanpa alat. 
Lompat Batu ini dilakukan hanya oleh para pemuda (laki - laki), yang sudah dilatih sejak kecil. Saat ini hanya ada 4 pemuda yang mampu melakukan tradisi Lompat Batu ini. 



saya dan para pelompat batu


Hal lain yang menarik dari desa Bawomataluo adalah Kerajinan Ukir yang khas. Patung, ornamen, dan sebagainya. Namun, kini hanya ada 1 orang saja yang dapat menghasilkan kerajinan ukir tersebut.
Dedikasi beliau sangat tinggi. Bahkan beberapa hasil karyanya sudah belasan tahun tidak ada yang membeli, bukan karena tidak laku, tapi lebih karena tidak ada yang tahu. Pemasaran kerajinannya tidak didukung oleh pemerintah.




Pengrajin Ukir Nias
Yang sungguh sangat disayangkan, sebenarnya masalah klasik, adalah perhatian dari pemerintah baik pusat maupun daerah. Tidak adanya kesadaran bahwa kearifan lokal dari warisan budaya bangsa merupakan aset tak ternilai. Bukan hanya untuk dilestarikan atau sekedar tontonan turis belaka, tapi perlu adanya kajian - kajian menyeluruh yang kemudian dapat diaplikasikan dalam kehidupan masyarakat modern. 

Justru negara lain yang kini menyadari adanya keunggulan dari budaya Indonesia. Jangan sampai kemudian diakui menjadi kekayaan intelektual mereka. Seperti pada Oma Ada, beberapa peneliti dari Jepang sudah berkali - kali mempelajarinya, mereka rela memberikan dana bantuan untuk pembangunan Oma Ada yang mencapai 400 juta rupiah per rumah. Sedangkan pemerintah Indonesia sendiri, hanya memberikan bantuan alat kerajinan yang bahkan tidak dapat digunakan karena tidak sesuai dengan kebutuhan. 













Monday, December 2, 2013

Teluk Dalam - Nias Selatan

Perjalanan saya kali ini dengan tujuan Desa Bawomataluwo di kecamatan Teluk Dalam kabupaten Nias Selatan yang berada di Kepulauan Nias. 
Apa yang menarik dari Desa tersebut? Dapat dibaca dalam tulisan saya Bawomataluwo.


Ok, untuk menuju Desa Bawomataluo dapat ditempuh melalui berbagai cara baik darat, laut, maupun udara. Saya memilih untuk melakukan perjalanan udara, maka saya harus mendarat di Bandara Kuala Namu - Medan. Dari medan, saya melanjutkan penerbangan ke Gunung Sitoli. Saat ini hanya ada 1 penerbangan yang melayani rute tersebut. Meski dengan berat hati saya terpaksa menggunakan jasa penerbangan tersebut. 


Mengapa terpaksa? karena saya sudah sering mendengar pengalaman orang maupun mengalami sendiri bagaimana pelayanan jasa penerbangan berlogo singa tersebut. Dan benar saja.... saat saya tiba di Medan, penerbangan di cancel dengan alasan teknis, yaitu armada yang dapat digunakan hanya 1 pesawat. Sedangkan penumpang menumpuk. 
Dengan melalui argumen dan konflik di Kuala Namu, kami akhirnya diinapkan di salah satu hotel di Medan, dan baru keesokan harinya diberangkatkan ke tujuan kami, yaitu Gunung Sitoli. Benar - benar buruk pelayanan penerbangan ini. Ketidakpastian kompensasi dan layanan harus kami lalui dengan keras. 


Oke, kita lanjutkan dengan kegembiraan saja... ;)

Dari Kuala Namu - Medan, kami terbang dengan pesawat Fokker menuju Gunung Sitoli. Satu - satunya bandara di Pulau Nias. Meski bandara di Gunung Sitoli kurang memadai, namun cukup menyenangkan bagi saya. dengan adanya bandara tersebut, saya berharap potensi - potensi di Nias dapat lebih dimaksimalkan dan dilestarikan, juga kehidupan masyarakat Nias dapat menjadi lebih baik.
Gunung Sitoli berada di Nias Utara, sedangkan tujuan saya adalah Nias Selatan. Maka dari Gunung Sitoli, saya melanjutkan perjalanan melalui darat selama hampir 3 jam ke ibukota kecamatan Nias Selatan, yaitu kecamatan Teluk Dalam. 


Batu Berjalan
Selama perjalanan ke Teluk Dalam, saya disuguhkan pemandangan pesisir yang menakjubkan. Ada cerita yang sedikit aneh, yaitu Batu Berjalan. Konon pada saat Tsunami menerjang Kepulauan Nias, ada Batu besar yang bergeser dari bukit ke pantai. Namun ada saksi yang mengatakan bahwa B
atu tersebut bergeser dengan sendirinya dari perairan kembali menuju pantai. Semakin lama, batu tersebut bergeser mendekat ke arah bukit. Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang pasti masyarakat sekitar mempercayai bahwa batu tersebut benar - benar "berjalan".